Beranda > Keluarga > Manajemen Keuangan Keluarga dalam Menghadapi Puasa dan Lebaran Oleh: Nur Asmawati, SE

Manajemen Keuangan Keluarga dalam Menghadapi Puasa dan Lebaran Oleh: Nur Asmawati, SE

Uang bukan segala-galanya, tetapi segalanya tidak berjalan lancar tanpa adanya uang. Darimanapun sumber uang entah dari bekerja ataupun berwirausaha tetap butuh pengelolaan dengan baik agar tidak kebobolan oleh nafsu belanja, iming-iming kemudahan berhutang di depan mata maupun inflasi. Demikianlah prolog dari buku “Cerdas dan Cerdik Mengelola Uang” buah pena Sri Khurniatun, RFA.
Manajemen keuangan keluarga merupakan suatu bagian penting dalam membantu mewujudkan rumah tangga yang harmonis dan mampu menjadi pendukung bagi aktivitas keseharian rumah tangga. Sebab sangat banyak masalah ekonomi atau keuangan keluarga yang menjadi penyebab ketidakharmonisan dalam rumah tangga dan akhhirnya mengganggu aktivitas seseorang dalam melaksanakan tugasnya, baik sebagai seorang istri, suami, anak ataupun sebagai hamba Allah untuk beribadah kepada-Nya. Dalam kaidah fiqih, ekonomi keluarga mutlak tanggung jawab suami. Jika istri bekerja, hasilnya untuk diri sendiri. Bila ditujukan untuk mencukupi kebutuhan keluarga, maka bernilai sedekah. Manajemen keuangan keluarga yang baik senantiasa menjaga keseimbangan (tawazun) antara besarnya pendapatan keluarga dengan besarnya pengeluaran. Dalam hal ini Islam mengajarkan kita untuk senantiasa bersifat qona’ah ketika pendapatan keluarga tidak begitu besar dan berusah untuk mengoptimalkan pos-pos pengeluaran dengan baik, jangan sampai “besar pasak daripada tiang”. KEUANGAN KELUARGA
Apa yang pertama kali harus kita sisihkan saat pertama kali menerima gaji? Banyak ibu rumah tangga dan para bapak menjawab “belanja rutin”. Menurut perencana keuangan keluarga Achmad Ghazali, jawaban itu kurang benar. “yang benar adalah sisihkan dulu untuk zakat, infak dan sedekah (ZIS), bayar utang, menabung baru belanja rutin”.
Mengapa demikian, menurutnya karena belanja adalah kebutuhan atau hak kita sebagai manusia yang paling fleksibel. Besar atau kecilnya tergantung kebiasaan atau kemauan personal. ZIS berurusan dengan dunia akhirat. Utang berkaitan dengan urusan dunia sehingga jika telat dibayar, maka orang yang bersangkutan harus membayar denda, bunga dan diteror debt collector. Tabungan berkaitan dengan masa tua sehingga harus dikeluarkan lebih dahulu sebelum uang gaji dibagikan untuk belanja rumah tangga.
Disinilah diperlukan ketelitian dan kecermatan dalam merencanakan, menyusun dan melaksanakan rencana keuangan seseorang khususnya dalam kehidupan rumah tangga. Prioritas alokasi pengeluaran dari gaji yang diterima ada dalam 4 (empat) titik, yaitu:

  1. Untuk dikeluarkan zakatnya.
  2. Pengeluaran kepada pihak ketiga sebagai salah satu kebijakan mendahulukan kewajiban daripada hak.
  3. Investasi dan tabungan untuk kehidupan masa depan.
  4. Terakhir untuk alokasi kebutuhan kita sekarang.

Dari keempat titik tersebut seringkali berbalik, titik terakhir malah menjadi yang utama dan titik paling utama justru menjadi yang terakhir. Sebagaimana sifat air, selalu mengalir dari atas ke bawah, begitu pula cash flow kita. Setelah menerima gaji, maka akan langsung mengalir ke bawah, yaitu kearah konsumsi. Baru setelah itu kalau ada sisa, kita tabung kalau juga masih ada sisa dari yang kita tabung, kita buat bayar cicilan hutang dan lain-lain. Kalau ternyata masih juga ada sisa, barulah kita mengeluarkan untuk infaq dan shodaqoh.
Dari kronologis diatas benar-benar terlihat betapa tidak teraturnya dan acak-acakan sekali kita dalam mengatur keuangan, disinilah kita sadari bahwa kita butuh manajemen keuangan keluarga yang baik. Karena sering kali tiba-tiba ada pengeluaran yang begitu besar pada bulan tertentu yang membuat gelagapan. Sering juga terjadi ingin menolong teman tapi tidak punya cukup uang, ataupun saat-saat tertentu ingin membeli sesuatu tapi kita tidak yakin apakah barang itu memang dibutuhkan dalam jangka panjang dan cukup layak untuk dibeli saat itu juga.

MEMBUAT PERENCANAAN KEUANGAN TAHUNAN
Pentingnya membuat perencanaan keuangan tahunan. Alasannya, adakalanya kita menghadapi bulan-bulan yang ringan, maksudnya pada bulan-bulan itu tidak banyak uang “wajib” yang harus kita keluarkan. Jadi sebenarnya pada bulan-bulan itu keuangan bulanan kita surplus. Namun, sebaliknya pada waktu tertentu kita menghadapi bulan yang berat, saat ramadhan dan musim libur lebaran misalnya. Pada saat yang bersamaan kita butuh dana besar untuk konsumsi setiap hari buka puasa dan sahur yang pada bulan puasa biasanya pegeluaran agak membengkak terlebih lagi jika kita mudik, beli baju lebaran dan ngasih “salam temple” ke keponakan. Atau bulan dimana saat membayar asuransi, uang sekolah, yang membuat anggaran bulanan kita minus. Untuk itulah penting membuat perencanaan keuangan tahunan, agar kita bisa menyimpan kelebihan uang kita untuk menutupi kekurangan pada bulan-bulan yang berat.
Manajemen keuangan model ini juga bisa membantu kita memutuskan dengan tepat barang apa yang ingin kita beli dan kapan saat untuk membeli barang tersebut. Ini akan menjawab keragu-raguan kita apakah barang ini layak kita beli atau tidak. Mungkin awalnya akan terasa agak berat, karena terkadang kita harus menahan diri dan sabar menunggu barang yang sebenarnya ingin (dan mampu) kita miliki saat itu juga. Tapi dengan begitu menjadikan kita lebih terlatih dengan komitmen dan rencana hidup kita dan belajar konsisten dengan skala prioritas. Dan jika itu terlaksana ada perasaan bahagia yang tidak terlukiskan ketika masa penantian itu berbuah, maksudnya ketika kita sudah merencanakan ingin membeli sesuatu, lalu kita agendakan untuk membelinya, setiap bulan kita sisihkan uang untuk itu dan finally kita dapatkan barang yang kita mau. Wah bahagia deh.
Keuntungan lain, kita bisa merencanakan investasi dengan lebih serius. Kalau kita masukkan investasi sebagai “pengeluara wajib” dalam form keuangan kita, otomatis kita akan “dipaksa” untuk menyisihkan uang untuk itu. Dengan demikian rencana investasi bisa lebih terarah. Dan kalau kita serius lama-lama pundi-pundi uang kita akan semakin besar.

PENUTUP
Betapa pentingya membuat perencanaan keuangan keluarga, dengan beraturannya sirkulasi keuangan keluarga setiap bulannya kita tidak mendapat masalah keuangan yang sangat kronis, karena kita sudah mempersiapkannya jauh-jauh hari jadi aktivitas sehari-hari rumah tangga tidak ada yang terganggu menjadikan keluarga lebih harmonis, alhamdulillah. Terlebih lagi zakat, infak dan shodaqoh yang kita keluarkan setiap bulan membawa kebaikan untuk orang lain dan kita sendiri yang insyaallah mensucikan rezeki kita dan mendapat rahmat dari Allah SWT. Amin
Untuk membantu teman-teman, saya berikan contoh sederhana akuntansi keuangannya ku attach di bawah. Kalau tertarik, silahkan download dan modifikasi sesuai kebutuhan. (Contoh Neraca Keuangan)

Kategori:Keluarga
  1. 5 Agustus 2011 pukul 14:46

    makasih, infonya sangat bermanfaat. Saya sudah coba untuk perencana keuangan bulanan, tapi belum kepikiran yang tahunan. Bisa diaplikasikan ya🙂

    • 5 Agustus 2011 pukul 16:19

      Insya Allah bisa namun tergantung setiap orang, karena dalam pengelolaan keuangan pribadi maupun keluarga pasti memiliki cara dan trik sendiri…semoga info ini berguna dan bermanfaat

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: