Beranda > Anak, Keluarga, Perempuan > Talkshow SAPA-HMI Cabang Yogyakarta: Peran Laki-Laki dalam Mendukung Gerakan Perempuan Indonesia

Talkshow SAPA-HMI Cabang Yogyakarta: Peran Laki-Laki dalam Mendukung Gerakan Perempuan Indonesia

Kebangkitan gerakan perempuan di Indonesia selama ini selalu diidentikkan dengan peringatan Hari Kartini, walaupun dalam sejarah pernah mencatat bahwa banyak perempuan-perempuan Indonesia pada zaman tersebut sudah banyak melakukan gerakan yang sama seperti Dewi Sartika, Martina Tiahahu, Cut Nyak Dien, Cut Meutia dan Rasuna Said. Perdebatan kenapa harus ada hari Kartini bisa dikatakan sudah usai bahkan belum usai sama sekali, namun dibalik hal tersebut adalah esensi dari pergerakan perempuan Indonesia saat itu dan bahkan sampai sekarang adalah dalam bentuk untuk mendobrak budaya Patriakhi, Feodalisme dan domestikasi peran perempuan yang selama ini hanya dilakukan oleh kaum perempuan saja, bahkan sebagian perempuan juga tidak peduli dengan gerakan ini apalagi kaum laki-laki yang dianggap “musuh” oleh penggiat isu perempuan, anak dan gender di Indonesia yang dianggap selama ini hanya dilakukan oleh perempuan.Pemahaman umum bahwa laki-laki tidak peduli atau bahkan memusuhi dengan gerakan perempuan, jika dilihat lebih dalam adalah ingin mendudukkan perempuan dan laki-laki “bertarung” untuk saling mendominasi antar pihak yang tentunya dengan fenomena tersebut akan merugikan setiap pihak dan hanya menguntungkan bagi kaum-kaum tertentu yang masih memegang teguh konsep patriakhi dan feodalisme atau kiearkhi dalam konsep dirinya. Padahal dalam perkembangannya, banyak laki-laki yang ternyata tidak nyaman dengan konsep tersebut dan pendikotomian antara peran domestik serta publik berdasarkan jenis kelamin sehingga lambat laun kelompok-kelompok laki-laki tersebut maupun perseorangan mulai mengambil peran untuk mendukung gerakan-gerakan keadilan dan kesetaraan gender yang selama ini dianggap hanya banyak didengungkan oleh rekan-rekan perempuan saja, pedikotomian tersebut merupakan politik liberal dengan memposisikan perempuan di sektor domestik dan laki-laki di sektor publik.
Fenomena gerakan laki-laki yang ambil peran dalam isu ini tentunya menarik untuk diangkat dalam momentun peringatan hari Kartini terutama dalam hal upaya bersama-sama untuk menyusun strategi gerakan untuk mendobrak konsep patriakhi dan feodalisme atau kiearkhi di lingkungan sekitarnya.
Sahabat Anak, Perempuan dan Keluarga (SAPA) bekerjasama dengan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Yogyakarta berinisiatif untuk kembali membuka wacana bahwa ternyata laki-laki juga ada peran, bahkan harus berperan dalam mendukung gerakan perempuan Indonesia, sehingga dalam momentum memperingati hari Kartini ini kami ingin mengadakan obrolan ringan untuk membedah posisi-posisi laki-laki yang selama ini dianggap acuh bahkan memusuhi isu-isu gerakan ini yaitu:

  1. Peran Laki-laki dalam Mencegah Kekerasan terhadap Perempuan dan Anak, dimana pengangkatan isu ini didasarkan bahwa pelaku utama dari kekerasan terhadap perempuan dan anak adalah laki-laki dan laki-laki tidak peduli dengan isu ini, sehingga menjadi pertanyaan apakah hal tersebut benar adanya dan jika tidak bagaimana sebenarnya gerakan laki-laki untuk meminimalisir tindak kekerasan terhadap perempuan dan anak?
  2. Peran Laki-laki dalam Pendidikan Keluarga, isu kedua ini adalah salah satu bentuk domestikasi perempuan dengan menempatkan bahwa perempuan yang sudah menikah memiliki “kodrat” untuk mengasuh anak, mendidik anak, merawat rumah dan kegiatan rumah tangga lainnya menjadi tugas utama seorang perempuan serta masih ada stigma yang menyatakan bahwa laki-laki tidak boleh melakukan hal ini, pertanyaan besar apakah stigma tersebut benar dan bagaimana konsepsi pemahaman masyarakat tentang peran laki-laki untuk memberikan pendidikan di dalam keluarga terutama dari aspek sosial dan agama serta bagaimana memaknai konsep ibu rumah tangga dan kenapa tidak ada bapak rumah tangga dalam melihat isu ini?
  3. Perspektif Perempuan dalam Melihat Peran Laki-laki yang mendukung gerakan Politik Perempuan, isu ini menghangat ketika Pemilu 2009 dilangsungkan dengan lahirnya wacana affirmative action bagi hak politik perempuan dan diikuti dengan slogan “Perempuan Pilih Perempuan”, sehingga ada anggapan bahwa memberikan kesempatan bagi perempuan di dunia politik yang diikuti dengan gerakan-gerakan saat itu sangat membuat laki-laki tidak nyaman dan bahkan juga membuat beberapa kaum perempuan juga tidak nyaman. Fenomena ini juga memperlihatkan bahwa perempuan seperti “diadu” dengan laki-laki ketika pencabutan konsep nomor urut oleh Mahkamah Konstitusi karena dianggap tidak demokratis, melihat hal tersebut ternyata domestikasi perempuan masih kuat dan ini bertentangan dengan makna dari kebangkitan gerakan perempuan tersebut bahkan terlihat laki-laki tidak peduli akan isu ini, sehingga hal tersebut menjadi pertanyaan apakah benar laki-laki merasa tidak nyaman dengan perempuan maju di dunia politik, apakah laki-laki juga tidak peduli dalam hal pemenuhan hak politik perempuan dan adakah gerakan laki-laki yang mendukung gerakan politik perempuan dengan konsep affirmative action bagi mereka, serta bagaimana perempuan melihat fenomena ini?

Tiga isu utama yang kami angkat memang tidak dapat dikatakan bahwa gerakan laki-laki dalam mendoromg perjuanganan perempuan Indonesia lebih adil dan setara hanya melalui isu-isu ini, namun ini adalah wacana pembuka awal untuk melihat sebenarnya perempuan tidak sendiri dalam memperjuangkan hak-hak mereka dan juga hak anak tetapi laki-laki juga peduli dan berkewajiban untuk bersama-sama mewujudkan keadilan dan kesetaraan gender bagi setiap pihak.

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: