Beranda > Keluarga > Mengenal Bentuk-Bentuk Kekerasan dalam Pacaran

Mengenal Bentuk-Bentuk Kekerasan dalam Pacaran

Masa remaja itu merupakan masa pembentukan identitas diri. Pada masa ini diharapkan remaja mampu membangun sense of identity. Setelahnya dilanjutkan dengan tugas perkembangan berikutnya, yaitu intimacy, atau menjalin hubungan dengan lawan jenisnya, kalau tidak salah itu kata Havighurst. Nah, ketika mengalami masa-masa pacaran, ternyata proses yang dihadapi untuk setiap orang tidak sama. Ada yang berjalan dengan sangat menyenangkan, namun tidak sedikit pula yang terpaksa menjalaninya dengan berbagai hal yang tidak nyaman. Anehnya, meskipun dengan keadaan yang tidak mengenakkan, tetap saja bentuk hubungan bernama pacaran itu tetap saja menjadi impian para remaja. Berbagai bentuk tindakan kurang menyenangkan, seperti hal nya dalam rumah tangga juga banyak terjadi pada remaja sekarang ini, sehingga “kekerasan dalam pacaran (KDP)” adalah tema yang tepat untuk bahasan kali ini.

KDP tergolong dalam satu bentuk penyimpangan perilaku remaja. Kasusnya biasa terjadi disekitar kita., namun kadang tanpa disadari. Baik itu oleh korban, atau bahkan pelakunya sendiri. Banyak rasionalisasi yang dilakukan oleh baik itu pelaku maupun korban kekerasan. Maklumlah, ketika insan sedang jatuh cinta, rasa indah selalu seperti hidup di surga. Bahkan berdasarkan sumber yang dapat dipercaya, menemukan bahwa pada kekerasan dalam pacaran ternyata merupakan kasus terbanyak kedua setelah kekerasan terhadap istri dan banyak menimpa perempuan sebagai korban.

Kekerasan dalam Pacaran (Dating Violence) adalah segala bentuk tindakan yang mempunyai unsur pemaksaan, tekanan, perusakan, dan pelecehan fisik maupun psikologis yang terjadi dalam hubungan pacaran. Kekerasan dalam pacaran meliputi kekerasan fisik, emosional, dan atau verbal oleh seseorang kepada pasangannya yang dilakukan dalam hubungan pacaran. Hal ini bisa dilakukan tidak hanya oleh pria, melainkan juga oleh wanita.

Berikut beberapa bentuk kekerasan yang sering terjadi di dalam pacaran, yaitu: Kekerasan fisik, meliputi memukul, menendang, menjambak rambut, menampar, menonjok, melempar benda, membawa ke tempat yang membahayakan keselamatan korban. Kekerasan seksual, meliputi setiap kontak seksual yang tidak diinginkan, rabaan, ciuman, melakukan hubungan seksual yang tidak kita kehendaki dengan berbagai ancaman. Kekerasan emosional atau psikis, meliputi mengejek, curiga berlebihan, selalu menyalahkan pacar, mengekang, melarang atau membatasi aktifitas kita, memerasa, melarang kita untuk menegur orang lain. Kekerasan secara ekonomi, bentuk kekerasan ini memang tidak terlalu terasa dan bahkan menganggap tidak pernah ada, kekerasan yang sering timbul dalam hal ekonomi diantaranya berupa peminjaman uang dan/atau barang yang pada ketika ingin ditagih maka si peminjam beralasan yang macam-macam, kemudian dapat juga dengan pengendalian terhadap pengeluaran dari salah satu pihak, misal: selalu minta ditraktik dan belnaja barang yang mewah, ketika tidak dituruti kemauannya maka akan berimbas kepada kekerasan yang lain, bisa fisik maupu psikis.

Berbeda dengan kekerasan fisik dan seksual, kekerasan emosional tidak meninggalkan luka yang jelas dan sulit dijelaskan, tapi efeknya bisa lebih parah daripada luka fisik. Kekerasan fisik ini seringkali dimulai dari hal-hal yang sederhana. Korban membiarkan terjadi karena menganggap tidak ada resiko besar yang akan menjadi konsekuensi dari ‘pembiaran’ tadi. Rasionalisasi yang dilakukan korban misalnya “lagian dia kan pacarku” atau “sesekali bolehlah”.

Karakteristik Kekerasan dalam Pacaran
Kekerasan yang terjadi dalam pacaran mengikuti sebuah siklus yang saling berkaitan satu sama lain yang disebut dengan siklus kekerasan. Siklus ini merupakan karakteristik kunci dalam dating violence, yang ciri-cirinya antara lain : Sering ketergantungan antara pelaku kekejaman dan korban, peristiwa yang tidak menyenangkan (korban melakukan sesuatu yang dipandang sebagai sesuatu tidak dapat diterima bagi pelaku, pelaku mencoba untuk menghentikan perilaku dengan mengancam, korban juga berargumentasi baik, keputusan “last straw” (pelaku memutuskan suatu situasi sebagai sesuatu yang tidak dapat ditolerir), serangan kemarahan yang primitif (Semua halangan untuk menyakiti orang yang dicintai tidak nampak), serta penyesalan (permohonan maaf, janji-janji, dan “saat-saat bahagia”), fase ini hilang dari siklus setelah beberapa tahun kekerasan (dikenal dengan fenomena cycle of abuse).

Bentuk kekerasan, apapun bentuknya adalah suatu hal yang akan mengakar dan akan terjadi berulang. Sikap menyesal dan permintaan maaf yang dilakukan oleh pelaku adalah fase “reda” dari suatu siklus. Biasanya setelah fase ini, pelaku akan tampak tenang, seolah-olah telah berubah dan kembali bersikap baik. Jika pada suatu saat timbul konflik yang menyulut emosi perilaku, maka kekerasan akan terjadi lagi.

Penyebab Kekerasan dalam Pacaran
Ada beberapa faktor yang mempengaruhi seseorang melakukan kekerasan dalam pacaran , yaitu :

Pola asuh dan lingkungan keluarga yang kurang menyenangkan. Keluarga merupakan lingkungan sosial yang amat berpengaruh dalam membentuk kepribadian seseorang. Masalah-masalah emosional yang kurang diperhatikan orang tua dapat memicu timbulnya permasalahan bagi individu yang bersangkutan di masa yang akan datang. Misalkan saja sikap kejam orang tua, berbagai macam penolakan dari orang tua terhadap keberadaan anak, dan sikap disiplin yang diajarkan secara berlebihan. Hal-hal semacam itu akan berpengaruh pada peran (role model) yang dianut anak itu pada masa dewasanya. Bisa model peran yang dipelajari sejak kanak-kanak tidak sesuai dengan model yang normal atau model standard, maka perilaku semacam kekerasan dalam pacaran ini pun akan muncul.

Peer Group, Teman sebaya memiliki pengaruh yang besar dalam memberikan kontribusi semakin tingginya angka kekerasan antar pasangan. Berteman dengan teman yang sering terlibat kekerasan dapat meningkatkan resiko terlibat kekerasan dengan pasangannya.

Media Massa, Media Massa, TV atau film juga sedikitnya memberikan kontribusi terhadap munculnya perilaku agresif terhadap pasangan. Tayangan kekerasan yang sering muncul dalam program siaran televise maupun adegan sensual dalam film tertentu dapat memicu tindakan kekerasan terhadap pasangan.

Kepribadian, Teori sifat mengatakan bahwa orang dengan tipe kepribadian A lebih cepat menjadi agresif daripada tipe kepribadian B (Glass, 1977). Dan hal ini berlaku pula pada harga diri yang dimiliki oleh seseorang. Semakin tinggi harga diri yang dimiliki oleh seseorang maka ia memiliki peluang yang lebih besar untuk bertindak agresif.

Peran Jenis Kelamin, Pada banyak kasus, korban kekerasan dalam pacaran adalah perempuan. Hal ini terkait dengan aspek sosio budaya yang menanamkan peran jenis kelamin yang membedakan laki-laki dan perempuan. Laki-laki dituntut untuk memiliki citra maskulin dan macho, sedangkan perempauan feminine dan lemah gemulai. Laki-laki juga dipandang wajar jika agresif, sedangkan perempuan diharapkan untuk mengekang agresifitasnya.

Dilain pihak, hal yang sering muncul dalam kasus-kasus kekerasan dalam pacaran adalah bahwa korban wanita biasanya cenderung lemah, kurang percaya diri, dan amat mencintai pasangannya. Apalagi karena sang pacar, setelah melakukan kekerasan (menampar, memukul, menonjok, dan lain-lain) biasanya terus menunjukkan sikap menyesal, minta maaf, dan berjanji tidak akan melakukannya lagi, serta bersikap manis pada pasangannya. Pada saat inilah, karena wanita tersebut sangat mencintainya dan berharap sang pacar akan berubah dan benar-benar insyaf, maka serta merta dia akan memaafkannya dan hubungan diharapkan bisa berjalan lancar kembali. Padahal, kekerasan dalam pacaran ini seperti sesuatu berpola, ada siklusnya. Seseorang yang pada dasarnya memiliki kebiasaan bersikap kasar pada pasangannya, akan cenderung mengulangi hal yang sama karena ini sudah menjadi bagian dari kepribadiannya, dan merupakan cara baginya untuk menghadapi konflik atau masalah.

Hal lain yang menyebabkan perempuan menerima menjadi korban kekerasan oleh pasangannya dalam hubungan pacaran antara lain :

Mereka mengharapkan hubungan mereka berjalan dengan mulus, dan berharap pasangannya akan berubah pada akhirnya.

Mereka merasa takut atau khawatir bahwa pacar mereka akan menyakiti atau melakukan balas dendam

Mereka merasa bersalah atau malu

Mereka melihat bahwa tidak ada alternatif lain, dan tidak menyadari bahwa meminta pertolongan memang bisa dilakukan.

Mereka tidak memiliki dukungan baik secara social maupun individual

Mereka menganggap bahwa pasangan yang hanya sekali-kali melakukan kekerasan lebih baik dibandingkan tidak memiliki pasangan sama sekali

Mereka meyakini bahwa sebetulnya, tindak kekerasan seperti itu biasa-biasa saja

Mereka berfikir bahwa tindak kekerasan akan lenyap dengan sendirinya ketika mereka sudah menikah atau memiliki anak

Dampak kekersan dalam Pacaran
Kekerasan dalam pacaran menimbulkan dampak baik fisik maupun psikis. Dampak fisik bisa berupa memar, patah tulang, dsbg. Sedangkan luka psikis bisa berupa sakit hati, harga diri yang terluka , terhina, dan sebagainya. Seiring dengan berjalannya waktu, korban kekerasan dalam pacaran akan menganggap perlakuan yang diterima sebagai sesuatu hal yang wajar, padahal, hal tersebut bisa menghambat perkembangan remaja dalam mempelajari sebuah hubungan yang sehat. Dampak-dampak yang bisa ditimbulkan antara lain : Depresi, menyalahkan diri sendiri, ketakutan merasa dibayangi okeh terror, rasa malu, merasa sedih, bingung, mencoba bunuh diri, cemas, tidak mempercayai diri sendiri dan orang lain, merasa bersalah.

Penanganan
Diatas telah dipaparkan penyebab terjadinya KDP. Penanganan dari KDP ini tentunya bergantung pada penyebabnya. Kita mesti menelusuri terlebih dahulu apa penyebabnya baru kemudian kita menentukan cara penanganannya. Proses penanganan KDP ini perlu melibatkan penyadaran kedua belah pihak, baik pelaku maupun korban, karena biasanya dalam kasus-kasus KDP diakibatkan ketergantungan pada masing-masing pihak.

Kepada korban, kita perlu meyakinkan dia untuk berkata tidak untuk tindak kekerasan yang dilakukan oleh pasangannya, membantunya melihat pilihan dan alternative yang mungkin dan menumbuhkan kepercayaan dirinya. Untuk korban yang mengalami trauma tentu dibutuhkan penanganan khusus oleh psikiater atau psikolog atau melalui pendamping korban untuk tahap awal.

Bagi pelaku kekerasan, kita telusuri apa penyebab dari perilakunya tersebut,apakah ada peristiwa buruk atau perilaku traumatic sehingga dia menggunakan cara penyelesaian konflik dengan cara kekerasan atau pada penyebab lainnya. Pelaku perlu mendapatkan konseling ataupun psikoterapi dari psikolog atau psikiater, juga perlu disadarkan bahaya dari perilakunya, baik bagi dirinya sendiri ataupun bagi pasangannya. Alternatif pengendalian emosi juga bisa dianjurkan, misalnya dengan pelatihan yoga, latihan pernafasan, dan sebagainya.

Di Indonesia, telah ada hukum yang melindungi korban kekerasan (termasuk KDP) yaitu pasal 351-358 KUHP untuk penganiayaan fisik, pasal 289-296 tentang pencabulan, jika kita mengalami pelecehan seksual, pasal 281-283, pasal 532-533untuk kejahatan terhadap kesopanan, dan pasal 286-288 untuk persetubuhan dengan perempuan dibawah umur. Sedangkan jika dalam kasus KDP ini menimpa anak yang masih dibawah umur (dibawah 18 tahun) maka perlindungan lebih lanjut akan mengacu kepada Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2003 tentang Perlindungan Anak. (dari berbagai sumber)

Jika anda atau teman anda mengalami hal-hal seperti tersebut diatas JANGAN DIAM segara melapor atau laporkan kejadian tersebut kepada pihak yang berwajib atau bisa melalui kami di 0274-8278087 dan email: konsultasi.sapa@gmail.com atau langsung mendatangi kantor kami.

  1. nikmah
    23 Oktober 2013 pukul 10:36

    kak boleh tanya sejauh ini pernah ada penelitian atau ada yang curhat dari surabaya ndak?

    • 28 November 2014 pukul 23:48

      Selama ini kami masih sebatas di wilayah DIY, terima kasih sebelumnya

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: